REVIVALisi dengan Text kalian

Pages

Saturday, September 7, 2013

Kebesaran Allah



KEBESARAN ALLAH

Ada satu anekdot tentang pengikut paham atheis yang tidak percaya dengan keberadaan Tuhan yang mengatur alam semesta. Ketika itu ia sedang menumpang pesawat terbang dalam perjalanan kesuatu tempat, ketika ia melihat ke jendela tiba2 ia melihat salah satu baling baling pesawat tersendat dan kemudian berhenti. Pesawat berjalan oleng tidak stabil, sebagian penumpang panik dan mulai berdo’a. Penumpang yang atheis ini terkesiap, mukanya pucat, ia berseru:” Oh my God !! “.
Nah …itulah manusia, baru ingat Tuhan kalau terjepit dan kepepet. Secara naluri dalam lubuk hati nan dalam sebenarnya semua orang mengakui adanya Tuhan yang berkuasa dialam semesta. Ego, gengsi, dan nafsu nyalah yang membutakan mata hatinya sehingga tidak percaya pada kekuasaan mutlak Tuhan yang kuasa.

Bagi orang yang mau menggunakan akal dan fikirannya sebenarnya pada pergantian siang dan malam, kapal yang berlayar dilaut, hujan yang tercurah dari langit, berbagai tumbuhan dan buah2an yang tumbuh dibumi, berbagai hewan dan binatang ternak, perkisaran awan yang beredar antara langit dan bumi, disana ada ayat tanda kebesaran dan kekuasaan Allah penguasa dan pencipta alam semesta.

Sejak zaman primitif manusia secara naluri telah mengakui tentang adanya kekuatan yang maha kuasa, yang maha mencipta dan menjadikan serta memelihara alam semesta. Dalam pencarian secara naluri inilah manusia akhirnya menemukan Tuhan menurut keyakinannya masing masing. Ada yang bertuhan pada patung,berhala, dewa, matahari, bulan, bintang, api, air, dan lain sebagainya. Nabi Ibrahimpun dalam pencariannya pernah menyangka bintang, bulan, matahari sebagai Tuhan, namun karena semua itu tidak kekal akhirnya ia menemukan Allah sebagai Tuhan yang Esa, yang maha kekal, abadi, maha kuat, dan maha perkasa .

Selanjutnya Nabi Ibrahim menyebarkan ajaran tentang Allah Tuhan yang satu, ia berseteru dengan raja Namrudz yang menyembah patung dan berhala. Nabi Ibrahim menghancurkan semua patung yang disembah Namrudz, hingga ia di bakar oleh raja Namrudz, namun Allah menyelamatkan Ibrahim sehingga tidak terbakar oleh tersebut. Ajaran Nabi Ibrahim diteruskan oleh anak cucunya, Ishak, Ya’kub, Yusuf yang dilanjutkan oleh Musa dengan kitab Tauratnya, Dawud dengan kitab Mazmurnya, Isa denga Injilnya dan terakhir Nabi Muhammad dengan kitab Al Qur’annya.

Agama Tauhid yang ber-Tuhan satu adalah agama yang pertama di bawakan oleh Nabi Ibrahim, namun dalam perjalanannya tetap saja banyak orang yang berusaha untuk menyimpangkannya hingga muncul kepercayaan yang menyamakan Allah dengan mahluk-Nya, beranak, punya ibu, bapak, pembantu istimewa dan lain sebagainya.

Ajaran Islam yang dibawakan Nabi Muhammad mengajarkan tauhid keyakinan kepada Allah yang satu, tidak beranak dan dilahirkan sebagai anak. Dia maha Esa, maka kuasa, maha perkasa, maha mengetahui tidak ada satupun mahluk yang menyamai dan menyerupai-Nya. Sistim yang ada dialam semesta yang tunduk hanya pada satu aturan telah membuktikan bahwa Tuhan yang menciptakan dan memelihara alam semesta ini hanya satu. Jika Tuhan ada dua atau tiga niscaya sistim dialam semesta akan kacau, karena Tuhan yang satu tidak berkenan dengan Tuhan yang lain. Tuhan-Tuhan itu tentu akan saling mengalahkan satu dengan yang lainnya, sehingga keduanya akan binasa, demikian pula alam semesta ini . 

System di alam semesta yang teratur dan tunduk hanya pada satu aturan merupakan bukti nyata bahwa Tuhan itu hanya satu, Dialah Allah yang maha Esa. Jika ada Tuhan yang lain selain Allah niscaya alam semesta akan kacau karena adanya aturan yang berbeda beda. Masing masing Tuhan akan membuat aturan sendiri-sendiri yang mungkin saja saling bertentangan. Tuhan yang satu akan berusaha mengalahkan Tuhan yang lainnya, masing masing Tuhan akan mengajak pengikutnya memerangi pengikut Tuhan yang lain. Alam semesta akan penuh kekacauan dan kekalutan.
Nyatanya saat ini alam semesta hanya tunduk pada satu aturan yang sangat teratur, itulah bukti tanda kekuasaan Allah yang Esa. Dilangit, bumi dan seluruh jagat semesta ada tanda kekuasaan dan keesaan Allah bagi orang yang mau menggunakan akal dan fikirannya.























Story Telling About Jaka tarub & 7 Angels



JAKA TARUB & 7 ANGELS

Once upon a time there was a widow who lived in the village of Dadapan.  She had a son whose name was Joko Tarup.  Dadapan village was close to a wood so Joko Tarup liked to go to the wood.  He liked hunting for animals with his blowpipe.
One day when he was in the wood he saw a beautiful rainbow and he saw seven angels went down through it.  He came closer and searched for them.  The seven angels were swimming and taking a bath in a lake.  Joko Tarup looked at them while hiding behind trees.  When they had finished taking a bath, they flew through the rainbow to heaven. 

The next day he saw the same thing again.  This time Joko Tarup had an idea.  He searched for their dress and when he found them he took one of them.  As they had finished swimming and taking a bath, they looked for their dress.  One of them could not find her dress.  Her friends had to come back to heaven so they left her.  She was crying while staying in the water.  Joko Tarup approached her.

‘Why are you crying lady?’
‘I lose my dress so I cannot go home’
‘Where is your home?’
‘I live in heaven.  I’m an angel.  My name is Nawang Wulan.  But I lose my dress so I cannot fly anymore’
‘If you don’t mind I will take my mother’s dress for you’
‘OK, please do’
‘Wait for me here, I’ll be back’
Then Joko Tarup went home to take her mother’s dress and gave it to Nawang Wulan.  He asked her to stay at her house with his mother.  Not long after that Joko Tarup married Nawang Wulan. 

As an angel Nawang Wulan had spiritual power.  She had ability which far above human being.  She could cook rice with just a bar of rice and when it had done the bowl will be full of rice.  But there was one condition.  The bowl must not be opened before it has done.  Joko Tarup was very surprised with her wife’s ability. He was very curious about it.  So when Nawang Wulan was away he opened the bowl.  Consequently Nawang’s spiritual power disappeared.  She had to cook as ordinary human being.   
Several months later Nawang Wulan gave birth to a beautiful baby girl.  Her name was Nawang Sih.  The birth of Nawang Sih added happiness to Joko Tarup and Nawang Wulan.
Since Nawang Wulan could not cook efficiently anymore, she needed more rice than usual.  The stock of rice in their store room diminished rapidly.  Then one day when she took rice there she was very surprised.  Nawang Wulan found her angel dress.  It was hidden there under piles of rice.  She immediately wore it and talked to Joko Tarup. 
‘My dear husband, now I know what you did to me’
‘Forgive me, my dear.  I admit that I did this because I love you’
‘I love you too.  But now I find my dress.  I must come back to heaven.  I am an angel.  My place is not here.  I have to go now’.
‘How about Nawang Sih?  She needs you’
‘I will leave her but don’t worry.  I will take care of her.  Anytime she needs me I will be here.  For that purpose please build a tower. When Nawang Sih cries put her there then call my name. I will come immediately.  But I will be invisible to you.  Good bye dear’
Then Joko Tarup built a tower behind his house.  Every time Nawang Sih cried he would put her there.  Nawang Wulan would come and take care of Nawang Sih.

Shifatul Huruf



SHIFATUL HURUF

Sifat huruf adalah karakteristik yang melekat pada suatu huruf pada saat keluar dari makhrajnya. Dimana setiap huruf hijaiyah mempunyai sifat tersendiri yang bisa jadi sama, bisa jadi berbeda. Sifat huruf akan muncul setelah suatu huruf diucapkan secara tepat dari makhrajnya. Dengan demikian perlu dipelajari sifat huruf itu setelah mempelajari makhrajnya. Diantara sifat huruf yang akan dipelajari antara lain :
I.                   JAHAR
Jahar menurut bahasa artinya berkumandang dan jelas. Sedangkan jahar menurut istilah adalah tertahannya aliran (hembusan) nafas ketika mengucapkan huruf, karena kuatnya tekanan terhadap makhraj huruf tersebut. Cara membaca huruf jahar adalah dengan nafas tidak berhembus atau seperti tertahan. Hal ini dimungkinkan karena ketika membaca makhrajnya dalam keadaan agak tertutup.
Huruf-huruf jahar ada 19 yang tergabung dalam :  طلب جد غض ى ى رىء ذ قا عظم

II.                 MAHMUS
Sifat mahmus sama dengan sifat hams, dimana hams atau mahmus secara bahasa artinya adalah perasaan halus. Sedangakan menurut istilah adalah keluarnya atau berhembusnya nafas ketika mengucapkan huruf karena lemahnya tekanan terhadap makhraj huruf itu. Cara membacanya adalah seperti menghembuskan atau mengeluarkan nafas ketika membacanya, baik ketika ia berharkat atau ketika dia sukun, kecuali huruf ك dan ت yang keduanya mengeluarkan nafas ketika dia sukun atau wakaf.
Huruf mahmus itu ada 10 macam yang tergabung dalam : فحثه شخص سكت

III.              SYIDDAH
Syiddah menurut bahasa artinya kuat, sedangkan menurut istilah adalah tertahannya suara ketika mengucapkan huruf karena makhraj huruf tersebut ditekan dengan sempurna. Cara membaca huruf syiddah adalah suara menjadi tertahan, karena kuatnya tekanan terhadap makhraj huruf tersebut. Tertahannya suara menjadi semakin nyata ketika huruf itu mati atau diwaqafkan.
Huruf syiddah jumlahnya ada 8 yang terkumpul dalam : اجدقطبکت


IV.              RAKHAWAH
Rakhawah menurut bahasa artinya lunak atau lembut. Sedangkan menurut istilah adalah berjalannya atau tidak tertahannya suara ketika mengucapkan huruf karena lemahnya tekanan terhadap makhraj huruf tersebut. Cara membaca huruf rakhawah adalah suara tidak tertahan atau keluar secara sempurna, baik ketika huruf itu berharkat sukun maupun tidak. Dengan demmikian suara tetap keluar dengan sempurna dan tidak tertahan.
Huruf rikhwa berjumlah sebanyak 16 huruf : خذ غث حظ شوص زى ساه

V.                TAWASUTH
Tawasuth menurut bahasa artinya adalah pertengahan atau sedang. Sedangkan menurut istilah adalah pertengahan suara saat mengucapkan huruf antara tertahannya suara, seperti syiddah dan berjalannya suara seperti rakhawah. Cara mengucapkan huruf-huruf tawasuth adalah antara tertahan dan tidak tertahan, dengan demikian suara pengucapan huruf tawasuth terdengar agak lemah dibandingkan dengan pengucapan huruf syiddah dan lebih kuat dibandingkan dengan pengucapan huruf rakhawah.
Huruf tawasuth ada 5 yang tergabung dalam : ل ن ع م ر     

VI.              ISTI’LA
Isti’la menurut bahasa artinya terangkat. Sedangkan menurut istilah tajwid adalah terangkatnya lidah ke langit-langit ketika mengucapkan huruf. Cara membaca huruf isti’la adalah dengan mengangkat lidah ke langit-langit, akibatnya suara terdengar agak membesar dan tebak (tafkhim)
Huruf isti’la ada 7 yang tergabung ke dalam : خ ص ض غ  ط ق ظ

VII.           ISTIFAL
Istifal menurut bahasa adalah merendahkan. Sedangkan menurut istilah istifal itu adalah terhamparnya lidah dari langit-langit atas sampai ke peralatan mulut saat mengucapkan huruf. Pengucapan huruf istifal, lidah terhampar di mulut dan tidak terangkat sehingga ada ruang antara lidah dengan langit-langit. Suara ketika membaca huruf istifal tidaklah membesar dan tebal. Intinya suara lebih kecil dibandingkan dengan suara isti’la.
Huruf-huruf istifal itu jumlahnya sebanyak 22 huruf yang tergabung ke dalam rumusan yang berbunyi :  من يجودحرفه اذسلشکا عز ثبت 

Pelaksaan Pancasila Pada Masa Orde Baru



Pelaksanaan Pancasila Pada Masa Orde Baru

Pancasila Pada Masa Orde Baru (1965-1998)
·         Terlaksananya dengan dasar “supersemar” dan TAP MPRS no. XXXVII/MPRS/1968 periode ini disebut juga demokrasi pancasila, karena segala bentuk penyelanggaraan negara berlangsung berdasarkan nilai-nilai pancasila
Ciri-ciri umum :
1.      Mengutamakan musyawarah mufakat
2.      Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat
3.      Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain
4.      Selalu diliputi oleh semangat kekeluargaan
5.      Adanya rasa tanggung jawab dalam melaksankan hasil keputusan musyawarah
6.      Dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur
7.      Keputusan dapat dipertanggungjawabkan kepada tuhan Yang Maha Esa berdasarkan nilai kebenaran dan keadilan
Orde baru muncul dengan tekad untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Semangat tersebut muncul berdasarkan pengalaman sejarah dari pemerintahan sebelumnya yang telah menyimpang dari Pancasila serta UUD 1945 demi kepentingan kekuasaan. Akan tetapi, yang terjadi sebenarnya adalah tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada masa orde lama, yaitu Pancasila tetap pada posisinya sebagai alat pembenar rezim otoritarian baru di bawah Soeharto.
Seperti rezim otoriter pada umumnya lainnya, ideologi sangat diperlukan orde baru sebagai alat untuk membenarkan dan memperkuat otoritarianisme negara. Sehingga Pancasila oleh rezim orde baru kemudian ditafsirkan sedemikian rupa sehingga membenarkan dan memperkuat otoritarianisme negara. Maka dari itu Pancasila perlu disosialisasikan sebagai doktrin komprehensif dalam diri masyarakat Indonesia guna memberikan legitimasi atas segala tindakan pemerintah yang berkuasa. dalam diri masyarakat Indonesia. Adapun dalam pelaksanaannya upaya indroktinisasi tersebut dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari pengkultusan Pancasila sampai dengan Penataran P4.
Upaya pengkultusan terhadap pancasila dilakukan pemerintah orde baru guna memperoleh kontrol sepenuhnya atas Pancasila dan UUD 1945. Pemerintah orde baru menempatkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai sesuatu yang keramat sehingga tidak boleh diganggu gugat. Penafsiran dan  implementasi Pancasila sebagai ideologi terbuka, serta UUD 1945 sebagai landasan konstitusi berada di tangan negara. Pengkultusan Pancasila juga tercermin dari penetapan Hari Kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober sebagai peringatan atas kegagalan G 30 S/PKI dalam upayanya menggantikan Pancasila dengan ideologi komunis.
Retorika mengenai persatuan kesatuan menyebabkan pemikiran bangsa Indonesia yang sangat plural kemudian diseragamkan. Uniformitas menjadi hasil konkrit dari kebijakan politik pembangunan yang unilateral. Gagasan mengenai pluralisme tidak mendapatkan tempat untuk didiskusikan secara intensif. Sebagai pucaknya, pada tahun 1985 seluruh organisasi sosial politik digiring oleh hukum untuk menerima Pancasila sebagai satu-satunya dasar filosofis, sebagai asas tunggal dan setiap warga negara yang mengabaikan Pancasila atau setiap organisasi sosial yang menolak Pancasila sebagai asas tunggal akan dicap sebagai penghianat atau penghasut. Dengan demikian, jelaslah bahwa Orde Baru tidak hanya memonopoli kekuasaan, tetapi juga memonopoli kebenaran. Sikap politik  masyarakat yang kritis dan berbeda pendapat dengan negara dalam prakteknya diperlakukan sebagai pelaku tindak kriminal atau subversif.
Sosialisasi Pancasila melalui Penataran P4
Pada era Orde Baru, selain dengan melakukan pengkultusan terhadap Pancasila, pemerintah secara formal juga mensosialisasikan nilai-nilai Pancasila melalui TAP MPR NO II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) di sekolah dan di masyarakat. Siswa, mahasiswa, organisasi sosial, dan lembaga-lembaga negara diwajibkan untuk melaksanakan penataran P4. Tujuan dari penataran P4 antara lain adalah membentuk pemahaman yang sama mengenai demokrasi Pancasila sehingga dengan pemahaman yang sama diharapkan persatuan dan kesatuan nasional akan terbentuk dan terpelihara. Melalui penegasan tersebut maka opini rakyat akan mengarah pada dukungan yang kuat terhadap pemerintah Orde Baru. Selain sosialisasi nilai Pancasila dan menerapkan nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa, dalam kegiatan penataran juga disampaikan pemahaman terhadap Undang- Undang Dasar 1945 dan Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Pelaksanaan penataran P4 sendiri menjadi tanggung jawab dari Badan Penyelenggara Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7).
Akan tetapi cara melakukan pendidikan semacam itu, terutama bagi generasi muda, berakibat fatal. Pancasila yang berisi nilai-nilai luhur, setelah dikemas dalam penataran P4, ternyata justru mematikan hati nurani  generasi muda terhadap makna dari nilai luhur Pancasila tersebut. Hal itu terutama disebabkan oleh karena pendidikan yang doktriner tidak disertai dengan keteladanan yang benar. Setiap hari para pemimpin berpidato dengan selalu mengucapkan kata-kata Pancasila dan UUD1945, tetapi dalam kenyataannya masyarakat tahu bahwa kelakuan mereka jauh dari apa yang mereka katakan. Perilaku itu justru semakin membuat persepsi yang buruk bagi para pemimpin serta meredupnya Pancasila sebagai landasan hidup bernegara, karena masyarakat menilai bahwa aturan dan norma hanya untuk orang lain (rakyat) tetapi bukan atau tidak berlaku bagi para pemimpin. Atau dengan kata lain Pancasila hanya digunakan sebagai slogan yang menunjukkan kesetiaan semu terhadap pemerintah yang sedang berkuasa.
Kesimpulan
Kecenderungan orde baru dalam memandang Pancasila sebagai doktrin yang komprehensif terlihat pada anggapan bahwa ideologi sebagai sumber nilai dan norma dan karena itu harus ditangani (melalui upaya indoktrinasi) secara terpusat. Pada akhirnya, pandangan tersebut bermuara pada keadaan yang disebut dengan perfeksionisme negara. Negara perfeksionis adalah negara yang merasa tahu apa yang benar dan apa yang salah bagi masyarakatnya, dan kemudian melakukan usaha-usaha sistematis agar ‘kebenaran’ yang dipahami negara itu dapat diberlakukan dalam masyarakatnya. Sehingga formulasi kebenaran yang kemudian muncul adalah sesuatu dianggap benar kalau hal tersebut sesuai dengan keinginan penguasa, sebaliknya sesuatu dianggap salah kalau bertentangan dengan kehendak penguasa.
Pelaksanaan Pancasila Pada Masa Reformasi
·         Dilaksanakan dengan tekad memberi perhatian yang benar terhadap pelaksanaan demokrasi di berbagai bidang.
Ciri-ciri umum :
1.      Adanya penegakan kedaulatan rakyat
2.      Adanya pembagian secara tegas wewenang kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif
3.      Adanya penghormatan terhadap keberagaman asas, ciri, aspirasi, dan program partai politik
Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia, merupakan Maha karya pendahulu bangsa yang tergali dari jati diri dan nilai-nilai adi luhur bangsa yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Dengan berbagai kajian ternyata didapat beberapa kandungan dan keterkaitan antara sila tersebut sebagai sebuah satu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan dikarenakan antar sila tersebut saling menjiwai satu dengan yang lain. Ini dengan sendirinya menjadi ciri khas dari semua kegiatan serta aktivitas desah nafas dan jatuh bangunnya perjalanan sejarah bangsa yang telah melewati masa-masa sulit dari jaman penjajahan sampai pada saat mengisi kemerdekaan.
Ironisnya bahwa ternyata banyak sekarang warga Indonesia sendiri lupa dan sudah asing dengan pancasila itu sendiri. Ini tentu menjadi tanda tanya besar kenapa dan ada apa dengan kita sebagai anak bangsa yang justru besar dan mengalami pasang surut masalah negari ini belum bisa mengoptimalkan tentang pengamalan nilai-nilai Pancasila tersebut. Terlebih lagi saat ini dengan jaman yang disepakati dengan nama Era Reformasi yang terlahir dengan semangat untuk mengembalikan tata negara ini dari penyelewengan-penyelewengan sebelumnya.
Arah dan tujuan reformasi yang utama adalah untuk menanggulangi dan menghilangkan dengan cara mengurangi secara bertahap dan terus-menerus krisis yang berkepanjangan di segala bidang kehidupan, serta menata kembali ke arah kondisi yang lebih baik atas system ketatanegaraan Republik Indonesia yang telah hancur, menuju Indonesia baru. Pada masa sekarang arah tujuan reformasi kini tidak jelas juntrungnya walaupun secara birokratis, rezim orde baru telah tumbang namun, mentalitas orde baru masih nampak disana-sini. Sedangkan pancasila adalah sebagai ideologi bangsa Indonesia yang merupakan hasil dari penggabungan dari nilai-nilai luhur yang berasal dari akar budaya masyarakat Indonesia. Sebagai sebuah ideologi politik, Pancasila bisa bertahan dalam menghadapi perubahan masyarakat, tetapi bisa pula pudar dan ditinggalkan oleh pendukungnya. Hal itu tergantung pada daya tahan ideologi tersebut. Ideologi akan mampu bertahan dalam menghadapi perubahan masyarakat bila mempunyai tiga dimensi. Ketiga dimensi antara lain sebagai berikut meliputi :
1). Idealisme, yaitu kadar atau kualitas idealisme yang terkandung di dalam ideologi atau nilai- nilai dasarnya. Kualitas itu menentukan kemampuan ideologi dalam memberikan harapan kepada berbagai masyarakat untuk mempunyai atau membina kehidupan bersama secara lebih baik dan untuk membangun suatu masa depan yang lebih cerah.
2).  Realita, menunjuk pada kemampuna ideologi untuk mencerminkan realita yang hidup dalam masyarakat dimana ia muncul untuk pertama kalinya, paling kurang realita pada saat awal kelahirannya.
3) Fleksibilitas, yaitu kemampuan ideologi dalam mempengaruhi dan sekaligus menyesuaikan diri dengan pertumbuhan atau perkembangan masyarakatnya. Mempengaruhi berarti ikut mewarnai proses perkembangan. Sedangkan Menyesuaikan diri berarti bahwa masyarakat berhasil menemukan tafsiran-tafsiran terhadap nilai-nilai dasar dari ideologi sesuai dengan realita-realita baru yang muncul dan mereka hadapi.
Maka dari itu pancasila sebagai ideologi haruslah mempunyai dimensibilitas agar substansi-substansi pokok yang dikandungnya tidak lekang dimakan waktu. Pada masa reformasi yang dimulai dari tahun 1998 hingga masa sekarang, orang-orang mulai menanyakan revelansi dari pancasila untuk menjawab segala tantangan zaman terlebih lagi di era globalisasi seperti sekarang ini. Maka Pancaila menurut saya mutlak masih diperlukan.
Reformasi bergulir di Indonesia dengan di motori oleh mahasiswa dan tokoh-tokoh bangsa ini yang merasa bahwa krisis yang melanda negara ini di awali dari krisis ekonomi ternyata telah membawa kita pada krisis yang lebih besar seperti krisis politik, kepemimpinan dan akhirnya pada suksesi atau pergantian kepemimpinan secara nasional. Tentu telah banyak korban yang berguguran dalam proses reformasi tersebut semisal contoh mahasiswa trisakti yang menjadi korban dalam tragedi semanggi I-II, kerusuhan masa yang anakis dan rutal dengan melakukan penjarahan, pemerkosaan, pengerusakan fasilitas-fasilitas umum di Jakarta, solo, Medan, dan kota-kota lain di Indonesia. Semangat dan jiwa reformasi yang digulirkan menjadi kacau dan tidak tentu arah dan justru malah menodai nilai dan tujuannya sendiri. Tentu ini menjadi tanda tanya besar ketika semangat untuk meluruskan dan mengembalikan tatanan negara ini menjadi lebih baik justru di lapangan justru kita temui hal yang kontraproduktif.
Salah satu tujuan reformasi dibidang politik dan hukum adalah mengembalikan UUD 1945 dan pancasila sebagai falsafah dasar kehidupan bangsa dan negara. Kita dapat mengetahui dengan seksama bahwa dalam pelaksanaan UUD 1945 dan pancasila dalam masa orma dan orba terjadi deviasia/ penyimpangan oleh oknum-oknum penyelenggara pemerintah. Sehingga dalam pelaksanaan berpolitik dan berpemerintahan hanya menjadi senjata dan dalil pembenaran dari semua tujuan penguasa untuk melanggengkan dan menikmati kekuasaan sehingga muncul pemerintahan yang lalu seperti otoliter obsolud, terpimpin dan kolusi untuk korupsi dan nepotisme dalam kekuasaan.
Ini tentu tidak mudah untuk membuat sebuah latar balik dan mengembalikan semangat seperti awalnya memerdekaan bangsa ini. Kekuasaan penuh dan perilaku birokrasi yang sistematis membuat apa yang mereka lakukan seolah selalu benar dan tidak ada penyimpangan dari nilai dan norma yang terkandung dalam pancasila. Butuh waktu dan sebuah generasi yang solid untuk dapat menempatkan kembali roh dan semangat pancasilaisme terutama pada generasi yang sekarang ini. Lebih lagi jumlah materi dan pedoman tentang pancasila sudah sangat jauh terkurang baik dimasyarakat umum maupun lembaga – lembaga pendidikan yang sebenarnya mempunyai peranan penting dan vital dalam menanamkan doktrin ideologi pancasila serta nilai – nilai yang terkandung untuk dapat di amalkan dalam kehidupan sehari – hari.
Dulu setiap sekolah dan kelompok organisasi selalu di wajibkan untuk mengikuti Penataran Pelaksanaan Pengamalan Pancasila ( P4) dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi, dari kelompok karang Taruna Desa sampai Pejabat negara. Secara lahirlah ini perlu ditingkatkan dan memang itu semua sebagai cara memberikan pendoktrinisasi anak bangsa untuk lebih mengerti dalam melaksanakan pancasila. Hanya saja satu materi dan doktrinisasi yang harus dibuat lagi seperti yang dulu yang hanya untuk tujuan dan kapentingan penguasa negara dengan single mayority atau stabilitas nasional dalam arti semu.
Satu kata kunci yang sekarang menjadi asing sudah luntur dari kita sebagai bangsa adalah pancasila sebagai ideologi NKRI. Dapat kita ketahui bersama dari uraian dan penjabaran Pancasila dalam strategi Politik Nasional, Ali Murtopo. CSIS, 1947 Hal 173 dapat kita ambil garis besar sebagai berikut :
       1. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung pengertian bahwa negara adalah berdasar dan percaya pada tuhan yang maha esa dengan kewajiban setiap warganya mengkui adanya Tuhan.
        2. Sila kedua, Kemanusian Yang Adil dan Beradab, mengandung pengertian dan pengakuan akan penghargaan terhadap sesama manusia lepas dari asal usul, keyakinan, ras, serta pandangan politik adalah sama.
        3. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, mengandung arti sesuai dengan pernyataan kemerdekaan angsa di maknakan sebagai pengertian kesatuan dan bangs ini adalah satu dengan mengatasi paham perseorangan dan golongan dalam satu NKRI.
        4. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin olah Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan, mengandung arti bahwa demokrasi bangsa Indonesia bukan Demokrasi bangsa indonesia bukan demokrasi yang menitikberatkan pada kepentingan individu, namun pada pelaksanaan demokrasi pancasila yang mengikutsertakan semua golongan dengan jalan musyawarah untuk mufakat.
5. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mengandung arti bahwa golongan kemasyarakatan harus disusun sedemikian rupa sehingga tidak ada golongan yang menekan golongan lain dan mendapat perlakuan yang adil dalam bekerja, hidup tertib, tentram dan layak.
6. Bila kita bangga sebagai bangsa Indonesia yang mempunyai jati diri sebagai angsa maka kita harus pada nilai – nilai dasar yang harus kita pegang teguh bersama. Terlebih lagi pada saat ini kita hidup di jaman reformasi yang seharusnya justru kita mengembalikan nilai – nilai dasar negara kita. Nilai – nilai dasar tersebut adalah :
a. Pancasila sebagai landasan dan falsafah hidup bangsa yang tumbuh dari dasar bumi indonesia. Tidak ada yang keliru dari pancasila yang di dalamnya termuat lima nilai dasar universal yaitu: believe in god, nationalisme, internasionalisme, democracy, and social justice. Kelima dasar ini harus menjadi paradigma baru yang ada dalam ruh hati yang paling dalam serta jangan pernah hilang kapan pun, dimanapun, dan bagaiamanapun.
b. Tujuan NKRI, bagai sebuah kapal tentu negara ini punya tujuan yang tidak boleh digoyah dan wajib untuk tetap diamankan sebagaimana dapat kita lihat dalam pembukaan UUD 45 yaitu melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidu[pan bangsa dan ikut melaksanakan ketertibn dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social.
c. Bineka tunggal ika, adalah semangat untuk menakomodasi peredaan dan kemajemukan bangsa tetap dalam kerangka NKRI dan justru sebagai sebuah khasanah serta aset nasional memperkukuh integrasi bangsa.
d. Reformasi, semangat untuk tetap mereformasi dengan sifat untuk menyempurnakan dari kekurangan bangsa serta dengan konsep, agenda yang jelas didukung kerja keras semua komponen bangsa untuk memajukan dan memberikan sumbangsih serta semangat untuk rela berkorban demi bangsa ini.
e. Ada sebuah seni yang sederhana dalam kita memulai semangat pengamalan nilai-nilai pancasila yakni tiga M seperti :
       1. mulai dari diri sendiri, adalah mimpi bisa mengubah apapun dengan baik tanpa diawali perubahan pada diri kita sendiri, memperbaiki diri sendiri berarti memulai segalanya.
      2. mulai dari hal kecil-kecil, tidak ada prestasi yang besar kecuali rangkaian prestasi
kecil yang mudah dan dapat kita laksanakan dengan niat dan jalan yang baik.
       3. mulai sekarang juga, janganlah menunda pekerjaaan yang bisa kita lakukan sekarang karena terlambat dalam kita menjalankan tugas hanya berakibat menambah persoalan semakin banyak saja